Peranan Orang Tua

PERANAN ORANG TUA DALAM BELAJAR DAN BANTUAN BELAJAR

A.   PERANAN ORANG TUA

Keluarga adalah  lembaga pendidikan informal (luar sekolah) yang diakui keberadaannya dalam dunia pendidikan. Peranannya tidak kalah pentingnya dari lembaga formal dan non formal. Bahan sebelum anak didik memasuki suatu sekolah, dia sudah mendapatkan pendidikan dalam keluarga yang bersifat kodrati. Hubungan darah antara kedua orang tua dengan anak menjadikan keluarga sebagai lembaga pendidikan yang alami.

Para orang tua umumnya ingin mengetahui tentang bantuan yang dapat mereka berikan kepada anak di rumah. Ada berbagai aktifitas yang  Mecer, 1979 (Mulyono Abdurrahman, 1999:109),  mengatakan bahwa hal yang dapat dikerjakan orang tua dalam membantu anak di rumah adalah :

  1. Melakukan observasi (pengamatan) terhadap perilaku anak
  2. Memperbaiki perilaku anak
  3. Mengajar anak

Ditambahkannya bahwa orang tua mempunyai lebih banyak waktu untuk bergaul dengan anak bila dibandingkan dengan guru, dokter, atau konselor. Oleh karena itu, melatih orang tua untuk mengembangkan keterampilan melakukan observasi perilaku anak merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi upaya membantu anak berkesulitan belajar. Hasil observasi orang tua dapat dilaporkan kepada guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategis pemecahan maslalah kesulitan belajar anak. Adapun perilaku anak yang perlu diobservasi oleh orang tua antara lain adalah berkaitan dengan kemampuan anak  dalam memahami pelajaran, mengulang pelajaran dan menyelesaikan tugas.

Masyarakat umumnya  memandang bahwa tugas orang tua di rumah adalah menanamkan kebiasaan dan tradisi yang berlaku dalam lingkungan sosialnya. Orang tua diharapkan dapat mengajarkan kepada anak tentang norma dan keterampilan sosial. Tetapi mengenai pelajaran akademik, ada 2 macam pandangan, pertama, pandangan yang tidak memperbolehkan orang tua mengajarkan bidang akademik kepada anak. Kedua, pandangan yang menganjurkan agar orang tua mengajarkan bidang akademik kepada anak di rumah.  Pandangan yang tidak memperbolehkan orang tua mengajarkan bidang akademik kepada anak (Mulyono Abdurrahman, 1999:110), bertolak dari alasan :

  1. Orang tua tidak memiliki keterampilan mengajar yang esensial
  2. Sering menimbulkan ketegangan dan frustasi pada anak
  3. Waktu anak untuk bermain menjadi berkurang
  4. Orang tua mungkin merasa bersalah jika tidak memiliki waktu untuk mengajar anak

Sedangkan pandangan yang menganjurkan orang tua mengajarkan bidang akademik kepada anak bertolak dari alasan bahwa :

  1. Jika mendapat latihan orang tua dapat berfungsi sebagai guru di rumah
  2. Orang tua dapat menjadi pelengkap bagi pembelajaran di sekolah

Jadi dapat dikatakan bahwa perlu tidaknya orang tua menjadi guru bagi anak mereka di rumah tergantung pada berbagai keadaan. Jika orang tua mampu menjalin hubungan yang baik dengan anak, menguasai bahan pelajaran dan metode pengajarannya, dan memiliki waktu untuk mengajar, ada baiknya orang tua semacam itu sebaiknya tidak menjadi guru bagi anak mereka di rumah. Beberapa pertimbangan lain untuk memutuskan apakah orang tua perlu mengajarkan bidang akademik kepada anak di rumah adalah kemungkinan waktu anak untuk bermain jadi berkurang, kemungkinan menimbulkan perasaan iri pada anaknya yang lain, dan apakah pengajaran tersebut dapat menyenangkan anak atau tidak.

Selanjutnya cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Hal ini jelas dan dipertegas oleh Sutjipto Wirowidjojo (Slameto, 1995:60), dengan pertanyaannya yang menyatakan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat, besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menetukan untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.

Melihat pernyataan di atas, dapatlah dipahami betapa pentingnya peranan keluarga di dalam pendidikan anaknya. Cara orang tua mendidik anak-anak akan berpengaruh terhadap belajarnya.

Hal ini dipertegas oleh Syaiful Bahri Djamarah (2002:207), mengatakan bahwa ketika orang tua tidak memperhatikan pendidikan anak. Ketika orang tua tidak memberikan suasana sejuk dan menyenangkan bagi belajar anak. Ketika keharmonisan keluarga  tak tercipta. Ketika sistem kekerabatan semakin renggang, dan ketika kebutuhan belajar anak tidak terpenuhi, terutama kebutuhan yang krusial, maka ketika itulah suasana keluarga tidak menciptakan  dan menyediakan suatu  kondisi dengan lingkungan yang kreatif bagi belajar anak. Maka lingkungan keluarga  yang demikian ikut terlibat menyebabkan kesulitan belajar anak. Oleh karena itu, ada beberapa faktor didalam keluarga yang menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik sebagai berikut :

  1. Kurangnya kelengkapan alat-alat belajar bagi anak di rumah, sehingga kebutuhan belajar yang diperlukan itu tidak ada, maka kegiatan belajar anakpun terhenti untuk beberapa waktu
  2. Kurangnya biaya pendidikan yang disediakan orang tua, sehingga anak ikut memikirkan bagaimana caranya mencari uang untuk biaya sekolah hingga tamat. Anak belajar sambil mencari uang biaya sekolah terpaksa belajar apa adanya dengan kadar kesulitan belajar yang bervariasi
  3. Anak tidak mempunyai tempat dan ruang belajar yang khusus di rumah. Karena tidak mempunyai  ruang belajar, maka anak belajar dimana-mana, bisa di ruang dapur, di ruang tamu atau belajar di tempat tidur. Anak yang tidak  punya tempat belajar berupa meja dan kursi terpaksa memanfaatkan meja dan kursi tamu untuk belajar. Bila ada tamu yang datang dia menjauhkan diri entah kemana, mungkin ke ruang dapur karena tidak ada pilihan lain
  4. Ekonomi keluarga yang terlalu lemah atau tinggi yang membuat anak berlebih-lebihan
  5. Kesehatan keluarga yang kurang baik, orang tua yang sakit-sakitan, misalnya membuat anak harus ikut memikirkannya dan merasa prihatin. Apalagi bila penyakit yang diderita orang tuanya adalah penyakit yang kronis.
  6. Perhatian orang tua yang tidak memadai. Anak merasa kecewa dan mungkin frustasi melihat orang tuanya yang tidak pernah memperhatikannya. Anak merasa seolah-olah tidak memiliki orang tua sebagai tempat menggantungkan harapan, sebagai tempat bertanya bila ada pelajaran yang tidak dimengerti, dan sebagainya. Kerawanan hubungan orang tua dan anak ini menyebabkan masalah psikologis dalam belajar anak di  sekolah.
  7. Kebiasaan dalam keluarga yang tidak menunjang. Karena kebiasaan dalam keluarga, dimana kebiasaan belajar yang dicontohkan tidak terjadwal dan sesuka hati atau dekat waktu ulangan baru belajar habis-habisan, maka kebiasaan itulah yang ditiru oleh anak, walaupun sebenarnya hal itu kebiasaan belajar yang salah.
  8. Kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan. Orang tua pilih kasih dalam mengayomi anak. Seolah-olah ada anak kandung dan anak tiri. Anak yang berprestasi baik disanjung dan anak yang tidak berprestasi dicemooh atau dimaki-maki. Sikap dan perilaku orang tua seperti ini membuat anak frustasi dan malas belajar.
  9. Anak yang terlalu banyak membantu orang tua. Untuk keluarga tertentu sering ditemukan anak yang terlibat langsung dalam pekerjaan orang tuanya seperti mencuci pakaian, memasak nasi didapur, kepasar, ikut berjualan, ikut mengasuh adiknya dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan seperti di atas sangat menyita waktu belajar anak yang seharusnya dipakai untuk belajar.

B.   PENGERTIAN PERHATIAN

Slameto (1995:104), Perhatian adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan pemilihan rangsangan yang datang dari llingkungannya. Jika seseorang sedang berjalan di jalan besar, ia sadar akan adanya llalu lintas di sekitarnya, akan kendaraan-kendaraan dan orang-orang yang lewat, akan toko-toko yang ada di tepi jalan. Dalam keadaan seperti ini kita tidak mengatakan bahwa ia menaruh perhatian atau perhatiannya tertarik akan hal-hal di sekelilingnya.

Dan Bimo Walgito (2002:78), menambahkan bahwa perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang dicurahkan atau dikonsentrasikan kepada benda tersebut.

Dengan  demikian maka apa yang diperhatikan akan betul-betul jelas bagi individu yang bersangkutan. Karena itu perhatian dan kesadaran akan mempunyai korelasi yang positif. Makin diperhatikan suatu objek akan makin disadari objek itu dan makin jelas bagi individu, oleh Harriman, 1958 (Bimo Walgito, 2002:78).

Sedangkan  Wasty Soemanto (1990:34), mengatakan bahwa perhatian adalah cara menggerakkan bentuk umum cara bergaulnya jiwa dengan bahan-bahan dalam medan tingkah laku. Dengan versi lain, perhatian dapat diartikan 2 macam, yaitu :

  1. Perhatian adalah pemusatan tenaga atau kekuatan jiwa tertuju kepada sesuatu objek
  2. Perhatian adalah pendayagunaan kesadaran untuk menyertai sesuatu aktifitas.
1.    Macam – Macam Perhatian

Kemudian ditambahkan oleh Wasty Soemanto (1990:34), bahwa ada bermacam-macam perhatian, yang pada pokok-pokoknya meliputi :

  1. Macam-mcam perhatian  cara kerjanya :

1)     Perhatian spontan, yaitu perhatian yang tidak sengaja atau sekehendak subjek

2)     Perhatian refleksif, yaitu perhatian yang disengaja atau sekehendak subjek

  1. Macam-mcam perhatian  intensitasnya :

1)     Perhatian instensif, yaitu perhatian yang banyak dikuatkan oleh banyaknya rangsangan atau keadaan yang menyertai aktifitas atau pengalaman batin

2)     Perhatian tidak intensif, yaitu perhatian yang kurang diperkuat oleh rangsangan atau beberapa keadaan yang menyertai aktifitas atau pengalaman

  1. Macam-macam perhatian  luasnya :

1)     Perhatian terpusat, yaitu perhatian yang tertuju kepada lingkup objek yang sangat terbatas. Perhatian yang demikian ini sering pula disebut sebagai perhatian konsentratif. Jadi, orang yang mengadakan konsentrasi pikiran berarti berpikir dengan perhatian terpusat.

2)     Perhatian terpencar, yaitu perhatian yang pada suatu saat tertuju kepada lingkup objek yang luas atau tertuju kepada macam-macam objek. Perhatian yang demikian dapat dilakukan oleh seorang guru di depan kelas yang pada suatu saat ia harus menunjukkan perhatian kepada tujuan pelajaran, materi pelajaran, buku pelajaran, alat pelajaran, metode belajar mengajar, lingkungan fisik kelas, dan tingkah laku anak didik yang cukup banyak jumlahnya.

Ditinjau dari segi kepentingan pendidikan dan belajar, pemilihan jenis perhatian yang efektif untuk memperoleh pengalaman belajar adalah hal yang penting bagi subjek yang belajar. Pemilihan cara kerja perhatian oleh anak didik ini dapat dibimbing oleh pihak pendidik atau lingkungan belajarnya. Salah satu usaha untuk membimbing perhatian anak didik yaitu melalui pemberian rangsangan atau stimulasi yang menarik perhatian anak didik. Hal-hal yang menarik perhatian dapat ditunjukkan melalui 3 segi, yaitu sebagai berikut :

  1. Segi Objek

Hal-hal yang menarik perhatian yaitu hal-hal yang keluar dari konteknya, misalnya :

1)     Benda yang bergerak dalam situasi lingkungan yang diam atau tenang

2)     Warna benda yang lain dari warna benda-benda di sekitarnya

3)     Stimulasi yang beraksi berbeda dari aksi lingkungannya

4)     Keadaan, sifat, sikap dan cara yang berbeda dari biasanya

5)     Hal yang muncul mendadak dan hilang mendadak

  1. Segi Subjek

Hal-hal yang menarik perhatian adalah hal-hal yang sangat bersangkut paut dengan pribadi subjek, misalnya :

1)     Hal-hal yang bersangkut paut dengan kebutuhan subjek

2)     Hal-hal yang bersangkut paut dengan minat dan kesenangan subjek

3)     Hal-hal yang bersangkut paut dengan profesi dan keahlian subjek

4)     Hal-hal yang bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman subjek

5)     Hal-hal yang bersangkut paut dengan tujuan dan cita-cita subjek

  1. Segi Komunikator

Komunikator yang membawa subjek ke dalam posisi yang sesuai dengan lingkungannya, misalnya :

1)     Guru/komunikator yang memberikan pelayanan/perhatian khusus kepada subjek

2)     Guru/komunikator yang menampilkan dirinya di luar konteks lingkungannya

3)     Guru/komunkator yang memiliki sangkut paut dengan subjek

Usaha-usaha lain yang dapat dilakukan dalam membimbing perhatian anak didik, yaitu penggunaan metode penyajian pelajaran yang dapat diterima oleh anak didik. Penerimaan ini akan efektif apabila pelajaran sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuan anak didik. Adapun macam-macam perhatian yang tepat dilakukan dalam belajar, yaitu :

  1. Perhatian intensif perlu digunakan karena kegiatan yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih terarah
  2. Perhatian yang disengaja perlu digunakan, karena kesengajaan dalam kegiatan akan mengembangkan pribadi anak didik
  3. Perhatian spontan perlu dilakukan, karena perhatian yang spontan cenderung dapat berlangsung lebih lama dan intensif daripada perhatian yang disengaja

C.   PENGERTIAN BELAJAR

Selanjutnya  Slameto (1995:2), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dalam lingkungannya.

Dari pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang terus menerus dalam usaha memahami berbagai perubahan yang diperoleh dari pengalaman dan lingkungan.

Memang tidak mungkin  langsung dapat mengukur sutu hasil belajar, penerimaan sikap dan dengan apa yang telah dipelajari, tetapi ada beberapa tanda yang dapat dipakai untuk mengukurnya, yaitu :

  1. Pencapaian tujuan yang berhasil, dikaitkan dengan nilai tes evaluasi yang sebenarnya
  2. Tidak adanya hubungan langsung antara kemampuan dan belajar. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kurangnya intelegensi dengan  hasil belajar berdasarkan  tanda yang dipakai untuk mengukur hasil belajar secara umum dapat dikatakan bahwa dengan semua kualifikasi yang sesuai dapat menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.

Dari keterangan di atas, maka dapat dikatakan bahwa siswa yang memiliki motivasi kuat akan banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Siswa tidak akan memiliki motivasi yang kuat, kecuali karena ada paksaan atau dorongan dari dalam dirinya atau luar dirinya.

Jumlah motivator yang mempengaruhi siswa pada suatu saat yang sama dapat banyak sekali, dan motif-motif (yaitu faktor-faktor yang membangkitkan dan mengarahkan tingkah laku) yang dibangkitkan oleh motivator-motivator tersebut mengakibatkan terjadinya sejumlah tingkah laku yang dimungkinkan untuk ditampilkan oleh seorang siswa, hal ini dikatakan oleh Slameto, (1995:171).

D.   PENGERTIAN PRESTASI BELAJAR

Seringkali siswa yang tergolong cerdas tampak bodoh karena tidak memiliki motivasi untuk mencapai prestasi sebaik mungkin. Misalnya, karena keadaan lingkungan yang mengancam, perasaan takut diasingkan oleh kelompok bila siswa berhasil, atau karena kebutuhan untuk berprestasi pada diri siswa sendiri kurang atau mungkin tidak ada. Ada tidaknya motivasi untuk berprestasi pada diri siswa cukup mempengaruhi kemampuan intelektual siswa agar dapat berfungsi secara optimal.

Mas’ud Khasan Abdul Qohar dalam Abu Ahmadi (1991:20), menyatakan bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Dalam dunia pendidikan, pentingnya pengukuran prestasi belajar tidaklah dapat disangsikan lagi. Sebagaimana kita ketahui, pendidikan formal merupakan suatu sistem yang kompleks yang penyelenggaraannya memerlukan waktu, dana, tenaga, dan kerjasama berbagai pihak. Berbagai faktor dan aspek terlibat dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Tidak ada usaha pendidikan yang secara sendirinya berhasil mencapai tujuan yang digariskan tanpa adanya interaksi berbagai faktor pendukung dari luar dan dalam sistem yang bersangkutan (Saifuddin Azwar, 2000:13)

Sedangakan  WJS. Poerwardarminta (1991:20), menyatakan  bahwa  prestasi adalah  hasil yang telah dapat diciptakan hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan  hati  yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.  Sudarsono (1997:186), mengatakan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai dilakukan atau dikerjakan. Dan prestasi orang lain adalah seseorang yang ingin berbuat lebih baik daripada yang telah diperbuat orang lain. Kemudian ditambahkannya bahwa prestasi sendiri yang lampau adalah keinginan seseorang berbuat melebihi prestasinya yang silam, ingin menghasilkan lebih baik daripada yang telah dihasilkan semula.

Dari pengertian prestasi di atas, maka dapat dikatakan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual atau kelompok.

E.    HUBUNGAN DORONGAN ARAHAN DALAM PRESTASI BELAJAR DAN BELAJAR

Sekolah merupakan tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan dan kebudayaan yang sesuai dan dikehendaki oleh masyarakat dimana sekolah itu berada. Sebaliknya, masyarakat diharapkan membantu dan bekerjasama dengan sekolah agar program sekolah berjalan lancar dan lulusan yang dihasilkan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Oleh sebab itu hubungan sekolah dengan masyarakat perlu dibina dan dikembangkan secara terus menerus (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996:39), yaitu :

  1. Hubungan sekolah dengan orang tua siswa
  2. Hubungan sekolah dengan instansi terkait
  3. Hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat
  4. Hubungan sekolah dengan lembaga pendidikan lainnya

Pada kesempatan ini yang akan dijelaskan adalah hubungan sekolah dengan orang tua siswa. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang secara formal dan potensial memiliki peranan paling penting dan strategis bagi pembinaan generasi muda, khususnya bagi siswa sekolah dasar. Sedangkan orang tua siswa pendidik pertama dan utama yang sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan dan perkembangan siswa. Oleh karena itu sangat diperlukan hubungan yang harmonis antara sekolah dengan orang tua.

Hubungan sekolah dengan orang tua siswa dapat dijalin melalui perkumpulan orang tua siswa, guru atau tenaga kependidikan lainnya yang dinamakan Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996:40). Ditambahkan bahwa manfaat hubungan sekolah dengan orang tua siswa anatar lain sebagai berikut :

  1. Agar orang tua siswa tahu tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah
  2. Agar orang tua siswa mau memberi perhatian yang besar dalam menunjang kegiatan-kegiatan sekolah

Agar orang tua siswa mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah perlu dilakukan berbagai upaya, antara lain :

  1. Memberikan informasi seluas-luasnya tentang program sekolah antara lain melalui rapat-rapat, bazar, pameran, malam kesenian, penjelasan tertulis dan lain-lain
  2. Melakukan kunjungan rumah oleh guru atau kepala sekolah
  3. Menetapkan satu bulan dalam satu tahun pelajaran sebagai bulan informasi

Dengan mengetahui kegiatan-kegiatan sekolah diharapkan agar orang tua siswa merasa memiliki, mau berpartisipasi dan mau memberi bantuan dalam pelaksanaan pendidikan. Partisipasi tersebut dapat berupa :

  1. Memotivasi putra-putrinya untuk belajar dengan baik
  2. Melengkapi semua keperluan belajar putra-putrinya
  3. Mengarahkan putra-putrinya untuk belajar secara teratur pada jam-jam tertentu dan mengatur waktu untuk kegiatan lain di rumah, misalnya nonton TV dan sebagainya
  4. Menciptakan suasana dalam keluarga agar dapat mendorong putra-putrinya rajin belajar
  5. Mengawasi putra-putrinya dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan sekolah
  6. Ikut membantu tegaknya disiplin sekolah
  7. Ikut mendorong putra-putrinya mematuhi tata tertib sekolah
  8. Memberikan saran mengenai ketertiban sekolah
  9. Ikut memberikan perhatian terhadap perkembangan situasi pendidikan sekolah

10.  Memenuhi undangan rapat dan undangan lainnya dari sekolah bagi kepentingan putra-putrinya

11.  Membantu tegaknya wibawa kepala sekolah dan guru

12.  Memberikan saran dalam menegakkan wibawa kepala sekolah dan guru

13.  Menjaga nama baik sekolah

14.  Mendorong agar putra-putrinya gemar membaca

15.  Mendorong putra-putrinya ikut aktif ambil bagian dalam kesenian, olah raga dan kegiatan lainnya

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s